Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

August 3, 2014

[REVIEW] Bumi

Judul: Bumi
Penulis: Tere Liye
Pernerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
440 halaman, 2014 (Cetakan Ketiga)

Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam. Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak.

Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.

Namaku, Raib. Dan aku bisa menghilang.

Jadi setelah membaca Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, saya jadi kecanduan baca novel Tere Liye yang lain. Bumi ini novel kedua Tere Liye yang saya baca. Novel ini mengangkat tema yang berbeda dari sebelumnya. Kalau sebelumnya bercerita tentang perasaan, kali ini Tere Liye menghadirkan fiksi fantasi yang indah.

Kisah ini berawal dari Raib (biasa dipanggil Ra) yang dari luar tampak seperti remaja 15 tahun kebanyakan. Gak ada yang spesial. Menurut penjelasan, Ra gak cantik (tapi juga gak jelek), gak pinter (kecuali dalam mapel Bahasa Indonesia), dan gak populer. Namun siapa sangka kalau Ra ternyata punya kekuatan yang dirahasiakannya sejak berumur 2 tahun, yang bahkan kedua orangtuanya pun gak tau kalau Ra bisa menghilang. Hilang dalam artian sebenarnya.

Jujur, awal ceritanya sempat bikin saya merasa bosan karena yang diceritain itu-itu doang. Ra sarapan di rumah - pergi ke sekolah - di sekolah belajar - pulang ke rumah - repeat. Ngebosenin. Tapiii entah gimana novel ini selalu bikin saya penasaran. Kalimat-kalimat di akhir babnya selalu bikin saya bertanya-tanya apa yang bakal terjadi di bab selanjutnya. Nih salah satu paragraf di akhir bab:

"Pagi itu aku sungguh tidak tahu, setelah sarapan bersama yang selalu menyenangkan, beberapa jam lagi kejutan itu tiba. Ada yang tahu rahasia besarku, bukan hanya satu, melainkan susul menyusul. Seluruh kehidupanku mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Perang besar siap meletus di Bumi. Aku tidak bergurau."

Anyway, di sekolah Ra punya seorang sahabat bernama Seli. Berbeda dengannya, Seli selalu tampil modis dan percaya diri. Ra juga punya seorang musuh bernama Ali yang penampilannya selau amburadul dengan rambut acak-acakan. Sampai kemudian sebuah peristiwa secara gak sengaja melibatkan mereka bertiga terperangkap di dunia yang bukan Bumi---dunia lain. Rahasia demi rahasia pun terungkap. Ra tentu saja dengan kemampuan invisible-nya, Seli yang ternyata selain mampu menggerakkan benda-benda di sekitarnya, juga bisa mengeluarkan petir dari telapak tangannya (how cool!), dan Ali yang punya otak cerdas bin genius bin brilian. Ali bahkan pernah hampir meledakkan sebuah lab dengan percobaannya saat akan mengikuti olimpiade fisika. Ditambah lagi kekuatannya yang mengejutkan pada akhir novel yang gak bakal saya ceritain. Baca sendiri yak. :p

Overall, this is a really great novel. Dengan gaya bahasa yang begitu apik thas Tere Liye, yang mampu menceritakan hal-hal yang sebenarnya biasa dan sederhana menjadi luar biasa dan bermakna. Di novel ini dijelaskan sebuah teori bahwa kehidupan di semesta memiliki kehidupan dari dunia yang berbeda-beda. Tere Liye menuliskannya sebagai empat klan, yaitu;


Klan Bumi, tempat kita berpijak, yang dianggap sebagai "Makhluk Rendah" atau "Makhluk Tanah" karena paling primitif ilmu pengetahuannya.


Kedua adalah Klan Bulan yang berada tepat di atas Bumi dan memiliki ilmu pengetahuan yang sangat maju.


Ketiga ialah Klan Matahari yang memiliki kemajuan lebih pesat daripada kedua Klan di bawahnya.


Dan terakhir adalah Klan Bintang yang masih bikin saya penasaran bagaimana kehidupan di Klan ini karena penjelasannya gak begitu jelas.

Btw, di novel ini yang menjadi main setting petualangan Ra dan kawan-kawannya adalah Klan Bulan.

Well, saya gak banyak baca novel fantasi lokal, seringnya terjemahan. Tapi novel Bumi ini bener-bener keren. Recommended banget lah pokoknya. Detail setting dan karakternya bikin cerita ini menarik untuk diimajinasikan. Omong-omong, masih banyak pertanyaan di kepala saya tentang klan-klan lain. Semoga lanjutan ceritanya yang berjudul Bulan cepat terbit yaw. Ehehe.

I gave 4 of 5 stars for this book.

July 20, 2014

[REVIEW] Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Judul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
512 halaman, 2012

Novel ini adalah novel karangan Tere Liye pertama yang saya baca. Saya bacanya udah berbulan-bulan yang lalu, tapi baru kepikiran bikin reviewnya sekarang. Hehehe.

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Sebuah novel dengan judul biasa dan cover yang menurut saya sama sekali gak menarik. Jujur aja, dari awal saya gak ada niat buat baca novel ini. Jangankan baca keseluruhan ceritanya, baca sinopsisnya aja males. Sampai kemudian saya dengar dari beberapa teman yang hobi baca juga kalo novel-novel karangan Tere Liye bagus banget. Oke, mari kita percaya pada pepatah "Don't judge a book by its cover". Jadilah saya pinjam novel ini dari seorang teman, membaca sinopsisnya, dan... tertegun.

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.

Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.

Saat itu juga, saya yakin bakal tenggelam dalam sebuah novel yang berbeda.

Adalah Borno, seorang pemuda sederhana dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas. Seorang pemuda yang jujur dan tekun. Seorang pemuda dengan ribuan pertanyaan di kepalanya. Seorang pemuda yang... idaman banget deh pokoknya.

Anyway, Borno hanya pemuda biasa tamatan SMA yang telah kehilangan ayahnya sejak ia berusia 12 tahun. Dengan ijazah SMA di tangan, Borno terus berganti-ganti pekerjaan demi menafkahi diri dan Ibunya. Mulai dari bekerja di pabrik pengelolaan karet yang membuatnya diolok-olok tetangga karena bau karet tetap melekat ketika Borno pulang kerja, gagal bekerja di pabrik sarang burung walet, hingga jadi pemeriksa karcis yang kemudian membuatnya berhenti dari pekerjaan itu setelah mengetahui bahwa temannya sesama penjaga karcis menggelapkan penumpang naik ke feri tanpa membayar.

"Kau tahu Borno, tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan."
-Ibu (Hal. 42)

Setelahnya, Borno bekerja serabutan. Memperbaiki genteng atau mencari kunci hilang pun sudah pernah ia lakoni. Sampai akhirnya Borno memutuskan menjadi pengemudi sepit. Tau kan sepit itu apa? Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu, panjang 5 meter, lebar 1 meter, dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel.

Pekerjaan mengemudi sepit ia lakukan dengan ikhlas dan sepenuh hati. Sampai kemudian takdir mempertemukannya dengan seorang gadis peranakan Cina dengan mata sendu yang menawan bernama Mei. Gadis itu adalah salah satu penumpang sepitnya. Gadis yang selalu membawa payung tradisional berwarna merah. Gadis yang menjatuhkan sebuah angpau di sepit Borno. Sebuah angpau yang ternyata menghubungkan mereka dengan masa lalu.

Selain Borno, tokoh favorit saya yang lain adalah Pak Tua. Beliau dengan segala petuah bijaksana dan pengalaman hidupnya yang selalu diceritakan kepada Borno. Pak Tua juga sebagai figur pengganti ayah bagi Borno.

"…Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam  sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang."
– Pak Tua (Hal. 132)

"Dunia ini terus berputar. Perasaaan bertunas, tumbuh mengakar, bahkan berkembang biak di tempat paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun. Perasaan-perasaan kadang dipaksa tumbuh di waktu dan orang yang salah."
– Pak Tua (Hal. 146)

"Ya, cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti."
– Pak Tua (Hal. 167)

"Camkan, cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi."
– Pak Tua (Hal. 168)

"Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah hanyalah omong kosong."
– Pak Tua (Hal. 173)

"Ah, cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri."
– Pak Tua (Hal. 288)

"…Perasaan itu tidak sesederhana satu ditambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan."
– Pak Tua (Hal. 355)

"Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirudung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya."
– Pak Tua

"Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri. Boleh jadi ketika seseorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa. Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga."
– Pak Tua

Oh ya, novel ini gak melulu soal cinta kok. Tere Liye menuturkan bahasa yang indah dan romantis, tapi gak lebay. Di novel ini juga diselipkan beberapa selipan humor dan pengetahuan tapi gak terkesan menggurui. Pokoknya saya sangat menikmati membaca novel ini.

And yeah, I'll give 5 out of 5 stars for this book! :)

March 13, 2013

[REVIEW] Montase



Judul: Montase
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
357 halaman, 2012


Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi...,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai...
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.


Ah, satu lagi novel yang mengangkat cerita dengan sudut pandang laki-laki yang saya baca. Saya suka cara penulis menggambarkan cerita dengan sudut pandang laki-laki. Kesannya jadi beda, nggak pasaran. Montase, sebuah novel ringan dan menghibur. Sebuah cerita tentang mimpi---Saya lebih suka menyebutnya demikian, ketimbang cerita roman dewasa muda mengharu biru dengan tokoh pengidap leukemia---dan kekuatannya, untuk sebuah pencapaian tak terduga.

Kisah ini berfokus pada dua sidekick:
Rayyi, yang demi papanya merelakan keinginannya dengan kuliah di kelas peminatan produksi karena papanya ingin ia kelak menjadi produser tersohor sama sepertinya. Padahal, Rayyi sangat mencintai film documenter---bukan sinetron---film sampah, katanya. Hampir sama dengan Rayyi, Haru Enomoto---seorang mahasiswi Jepang yang sedang melakukan studi banding di Jakarta---juga mengalami kisah yang hampir sama. Haru mempunyai bakat luar biasa di bidang melukis, namun ia memilih menekuni mimpinya yang lain yaitu menjadi mahasiswa di kelas Film documenter karena ia ingin membahagiakan orangtuanya.

"Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan?"  Begitu kata Haru.

Kisah cinta di novel ini cukup sederhana, namun begitu terasa dan mengharukan. Menyenangkan, menyentuh perasaan, dan mengaduk-aduk emosi. Ea.

March 12, 2013

[REVIEW] Camar Biru


Judul: Camar Biru
Penulis: Nilam Suri
Penerbit: Gagas Media
280 halaman, 2012


Aku membutuhkanmu.
Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu—dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketukan bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.

Aku membutuhkanmu.
Ya cinta, ya waktumu. Dan kau sudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.

Aku membutuhkanmu—dan bisa jadi... aku mencintaimu.
Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku...


Camar Biru adalah sebuah kisah cinta bujur sangkar antara Nina, Adith, Naren, dan Sinar.

Nina. Cewek ceroboh, berantakan, amburadul. Pokoknya gak pedulian banget sama penampilannya. Wajahnya gak pernah dipoles make-up dan rambut ikalnya selalu dibiarkan tergerai tanpa disisir. Tapi, walaupun kelakuannya kayak manusia gua, penampakannya selalu kayak putri dari kerajaan gulali. Emang aneh. Saya juga heran sih.

Naren. Kakaknya Nina. Naren udah kayak emaknya Nina aja. Ngurusin ininya Nina, itunya Nina. Naren yang selalu ngebangunin Nina setiap pagi. Naren yang membacakan cerita menjelang tidur. Dan, Naren yang selalu mengantar dan menjemputnya ke mana pun. Kakak apa supir nih? *digetok*

Adith. Seorang dosen bahasa Jepang yang pernah berada di negeri geisha itu selama 1 tahun untuk melanjutkan pendidikannya.

Sinar. Tokoh paling misterius dalam novel ini.

Selain mereka berempat, ada juga Danish, sahabat karib Nina. Cewek ini selalu punya aura Don't mess me dan selalu berusaha mengejar apapun yang dia inginkan. Dia ingin orang-orang tau cewek seperti apa dia. Seorang cewek dengan standar hidup tinggi, bukan karena orangtua, apalagi karena cowok-cowok yang melemparinya kemewahan. Nggak. Kalau dia pake baju mahal dengan sepatu yang akan bikin ibu-ibu di desa sulit bernapas karena harganya sama dengan pendapatan suaminya sebulan, itu karena Danish memang banting tulang untuk mendapatkannya.


Gue bakal bikinin kotak kaca buat hati Nina, seperti kotak kaca yang dibuat oleh para tujuh orang kerdil buat si putri salju. Lalu, gue kasih lapisan anti peluru kayak dimilik oleh M16 untuk melapisi mobil agen 007 mereka. Gue nggak akan sebodoh Davy Jones dengan membawa kotak kaca itu kemana-mana. Kotak kaca itu akan gue simpan di dalam brankasnya bank-bank di Swiss sana. Safe and sound, just like what I hope Nina forever will be. (halaman 103) 

Kadang, saat kita nggak mampu melepaskan orang yang kita cintai, berarti kitalah yang harus pergi. Mungkin membalikkan badan dan berlalu lebih mudah dibanding berdiri diam menatap punggung seseorang.. (halaman 269)


Saya juga suka filosofi asap rokok yang ada di novel ini:

"Gue selalu percaya permintaan itu akan dikabulkan kalau dia bisa terbang semakin tinggi. Nggak tau kenapa. Mungkin kalau dia semakin tinggi, dia akan semakin mudah didengar. Karena nggak mungkin gue terus-terusan naik pesawat setiap kali punya permintaan, jadi jalan lainnya adalah asap. Gue membisikkan permintaan, lalu asap akan membawanya bersama udara, ke angkasa, dan akhirnya, gue harap, permintaan gue itu akan mencapai tempat yang tepat. Lalu, dikabulkan. Makanya gue butuh asap, karena asap membumbung tinggi ke angkasa." (halaman 155) 


Camar Biru ini, satu dari sekian banyak buku terbitan Gagas Media yang saya suka. Isi ceritanya unik. Kisah bujur sangkar. Karena gak hanya menceritakan hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan, tapi juga hubungan cinta antara kakak dan adik. Dan, endingnya yang gak terduga.